Pada bulan Maret 2021 hingga Juli 2021, Communication for Change (C4C) telah mengadakan riset kualitatif dan kuantitatif guna menggali persepsi masyarakat urban Indonesia berusia 15 – 39 tahun tentang energi terbarukan. Penelitian ini adalah bagian dari program pengembangan strategi komunikasi untuk menggalang dukungan publik yang lebih luas terhadap berbagai kebijakan dan praktik yang mampu mempercepat penerapan energi terbarukan di Indonesia.

Penelitian ini menitikberatkan pada dua kelompok generasi, yaitu Milenial (lahir antara 1981 dan 1996) dan Gen-Z (lahir setelah 1996), karena mereka mewakili porsi terbesar dari masyarakat dan suara pemilih di Indonesia. Kelompok ini juga lebih mungkin untuk menyumbang kertas suara lebih banyak dalam pemilu sepanjang hidup mereka. Karena itu politisi dan pembuat kebijakan bisa menganggap suara mereka perlu diperhatikan.

Studi kualitatif dan kuantitatif kami menunjukkan adanya tingkat pengenalan yang rendah di kalangan Gen-Z dan Milenial di 12 kota di berbagai penjuru Indonesia terkait energi terbarukan. Selain itu, pemahaman mereka tentang semakin langkanya bahan bakar berbasis fosil di Indonesia juga rendah. Namun, ketika mereka dibekali informasi dasar tentang kelangkaan bahan bakar fosil dan betapa energi terbarukan dapat menghasilkan listrik andal dengan harga terjangkau, mereka cenderung mendukung pengembangan sumber daya energi terbarukan. Selain itu, responden dari rumah tangga dari kalangan SES atas menunjukkan minat awal untuk memasang panel surya di rumah mereka.  (Penelitian Persepsi Kaum Muda Urban Mengenai Energi Terbarukan, Communication for Change (C4C), hlm. 3). Selengkapnya

Lembaga Arus Survei Indonesia (ASI) bekerja sama dengan Indonesian Parliamentary Center (IPC) merilis hasil survei bertajuk “Persepsi Anak Muda terhadap Perubahan Iklim: Tantangan dan Harapan di Pemilu 2024”. Survei dilaksanakan pada tanggal 16 – 21 Desember 2023 di Jabodetabek (Jakarta, BOGOR, DEPOK, TANGERANG, BEKASI). Populasi responden adalah anak muda, yakni penduduk berusia 17 – 23 tahun (Gen Z) dan 24 – 39 tahun (Gen Milenial). Survei dilakukan secara tatap muka (wawancara langsung) dengan metode penarikan sampel multistage random sampling . Jumlah sampel 400 responden, dengan margin of error (MoE) adalah +/- 4.9% pada tingkat kepercayaan 95%.

  Dampak, Penyumbang Perubahan Iklim & Aspirasi Kebijakan

  • Sebanyak 85,1% anak muda di Jabodetabek mengatakan bahwa krisis iklim mempunyai dampak terhadap kesehatan, ekonomi, atau kehidupan sehari-hari, sementara yang mengatakan tidak berdampak 11,4%, dan yang mengaku tidak tahu/tidak menjawab 3,5%.
  • Emisi kendaraan bermotor pribadi (19,5%), emisi dari kendaraan jalan besar (15,3%), penggundulan hutan (12,7%), pembangkit listrik atau pertambangan berbahan bakar batu bara (8,3%), dan sektor ekonomi pertanian dan perkebunan besar (6,3%) merupakan lima besar penyumbang krisis iklim terbesar di Indonesia.
  • Menghentikan penggundulan hutan (14,8%), melarang penggunaan kendaraan pribadi (12,7%), melarang penggunaan plastik sekali pakai dalam kehidupan sehari-hari (10,7%), membatasi buangan gas atau emisi dari kendaraan besar di jalan raya ( 10,4%), dan memperbanyak penggunaan transportasi publik (9,8%) merupakan lima besar kebijakan yang diinginkan anak muda di Jabodetabek kepada Calon Presiden atau Calon Anggota Legislatif terpilih dalam mengatasi krisis iklim.

Pengetahuan Tentang RUU Energi Baru & Terbarukan

  • Hanya 12,4% anak muda di Jabodetabek yang mengetahui bahwa DPR dan Pemerintah sedang membahas Rancangan Undang-undang Energi Baru dan Energi Terbarukan, sementara sebagian besar tidak tahu 85,1%, dan yang tidak menjawab 2,5%.
  • Sebanyak 41,5% anak muda di Jabodetabek mengetahui bahwa sebagian sumber listrik kita masih menggunakan PLTU Batubara, sementara yang mengatakan tidak mengetahui 56,7%, dan yang tidak menjawab 1,8%.
  • Sebanyak 62,8% responden anak muda di Jabodetabek mengaku ya ada kenaikan terkait kenaikan biaya penggunaan listrik dalam 6 bulan terakhir, sementara yang mengatakan tidak ada kenaikan 34,9%, dan yang tidak bertanggung jawab 2,3%.
  • Saat ini terdapat sekitar 4,6% anak muda di Jabodetabek yang menggunakan kendaraan listrik, sementara yang tidak menggunakan 93,9% dan yang tidak bertanggung jawab 1,5%.

Preferensi Terhadap Capres-Cawapres 2024 & Partai Politik Soal Isu Perubahan Iklim

  • Terkait 3 pasangan capres-cawapres yang memiliki komitmen mengatasi krisis iklim, pengembangan energi terbarukan (energi bersih) dan perlindungan lingkungan hidup, berikut ini urutannya: Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka (34,0%), Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (33, 0%), Ganjar Pranowo-Mahfud MD (24,2%), sementara yang tidak tahu/tidak jawab 8,9%.
  • Terkait 3 pasangan capres-cawapres yang dipercaya mampu menyelesaikan persoalan krisis iklim dan lingkungan hidup, berikut ini urutannya: Anies Baswedan-A.Muhaimin Iskandar (33,0%), Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka (32,5%), Ganjar Pranowo -Mahfud MD (25,4%), sementara yang tidak tahu/tidak jawab 9,1%.
  • Terkait partai politik yang paling dipercaya mampu menyelesaikan persoalan krisis iklim dan lingkungan hidup, urutannya berikut: Gerindra (23,8%), PKS (13,9%), PDI Perjuangan (12,4%), PKB (7,8%) ) , Golkar (6,3%), NasDem (6,1%), PAN (3,5%), Partai Demokrat (2,8%), PSI (2,8%), Perindo (1,5%), Partai Gelora (1,3%), PPP (1,0%), Partai Buruh (0,3%), PKN (0,3%), Hanura (0,0%), Partai Garuda (0,0%) . %), PBB (0,0%), Partai Ummat (0,0%). Sisanya TT/TJ (16,2%). Selengkapnya UNDUH